Di Tengah Badai dan Cemas Rakyat, Gubernur YSK Menjawab dengan Hadir dan Berpihak

Berita
WhatsApp Image 2026-01-11 at 08.22.06.jpeg

Manado – Pekan ini (5-10 Januari 2026), linimasa media sosial Sulawesi Utara dipenuhi bukan hanya oleh berita, tetapi juga oleh perasaan. Ada takut, cemas, dan harap yang bercampur jadi satu. Banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) menjadi pengingat pahit bahwa alam bisa berubah ganas dalam hitungan jam. Rumah terendam, akses terputus, aktivitas lumpuh. Di tengah kondisi itu, banyak warga bertanya dalam hati, “Kita mo sandar pa sapa kalau so bagini?”

Saat hujan dan badai masih melanda, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE (YSK) tidak memilih menunggu cuaca benar-benar bersahabat. Ia justru berangkat menuju Sitaro dengan menggunakan pesawat kecil berkapasitas sekitar 12 penumpang, di tengah kondisi cuaca yang belum stabil. Langkah ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan tekad untuk hadir, meski risiko dan keterbatasan perjalanan sangat nyata.

Perjalanan itu bukan perjalanan nyaman. Cuaca buruk, angin kencang, dan hujan masih menyelimuti wilayah kepulauan. Namun, bagi gubernur, menunda kehadiran berarti menunda penguatan moral bagi warga yang sedang dilanda trauma. Setibanya di Siau, bahkan ia dikabarkan harus beristirahat dan bermalam di bandara, sebuah gambaran sederhana namun kuat tentang komitmen untuk tetap berada dekat dengan rakyat, apa pun kondisinya.

Di media sosial, kisah ini cepat menyebar. Banyak warganet menilai perjalanan dengan pesawat kecil dan bermalam di bandara bukan soal heroisme berlebihan, melainkan simbol kesungguhan. Ada yang menulis, “Kalau cuma mau pencitraan, nyanda mungkin mo naik pesawat kecil di cuaca bagini.” Ada pula yang berkomentar, “Pemimpin bagini nyanda ba banyak gaya, tapi nyata hadir.”

Sesampainya di lokasi banjir bandang, Gubernur Yulius Selvanus melihat langsung kondisi warga. Ia menyaksikan rumah-rumah yang rusak, jalan yang terputus, dan wajah-wajah lelah yang masih dibayangi ketakutan. Ia mendengar langsung cerita warga tentang derasnya air, tentang kepanikan saat malam hari, dan tentang kekhawatiran akan keselamatan keluarga. Kehadirannya bukan hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga membawa rasa aman bahwa negara tidak absen dalam situasi genting

Bagi warga Sitaro, banjir bukan hanya soal kerusakan fisik. Ia meninggalkan beban psikologis yang berat. Rasa takut, cemas, dan ketidakpastian tentang hari esok masih terasa kuat. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran pemimpin memberi kekuatan batin. Seorang warganet menulis, “Kita so capek, tapi paling tidak torang nyanda sendiri.”

Di waktu yang hampir bersamaan, keresahan lain muncul dan cepat menyebar di ruang publik, yakni isu kenaikan Pajak Kendaraan Bermotor. Isu ini langsung menyentuh emosi rakyat karena menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari. Kendaraan bagi banyak orang bukan simbol kemewahan, melainkan alat untuk bekerja, untuk menghidupi keluarga, dan untuk bertahan di tengah mahalnya kebutuhan hidup. Maka kegelisahan pun menguat. “Kalau pajak naik, torang musti putar otak lagi,” tulis seorang warganet.

Namun, arah kebijakan yang diambil Gubernur Yulius Selvanus justru berlawanan dengan ketakutan itu. Ia memilih langkah yang penuh keberanian politik dengan memotong Pajak Kendaraan Bermotor. Kebijakan ini segera disambut positif. Bukan hanya karena nominal pengurangannya, tetapi karena makna di baliknya. Rakyat merasa diperhatikan, dipikirkan, dan tidak ditinggalkan dalam tekanan ekonomi.

Respons di media sosial terasa sangat emosional dan personal. Ada yang menulis, “Ini pemimpin yang baku rasa deng rakyat.” Ada pula yang mengatakan, “Di saat torang susah, dia malah kase ringan.” Kalimat-kalimat itu menunjukkan bahwa kebijakan tersebut tidak dipandang sebagai administrasi belaka, tetapi sebagai bentuk empati yang nyata.

Dalam satu pekan, masyarakat menyaksikan dua kenyataan hidup yang berjalan bersamaan. Alam yang keras dan tidak terduga, serta tekanan ekonomi yang terus dirasakan. Di tengah dua kenyataan itu, mereka melihat satu sosok pemimpin yang hadir secara fisik di lokasi bencana, bahkan dengan segala keterbatasan perjalanan, dan hadir secara kebijakan dalam meringankan beban hidup.

Banjir bandang Sitaro, perjalanan dengan pesawat kecil di tengah hujan dan badai, bermalam di bandara Siau, serta kebijakan pemotongan pajak kendaraan akhirnya menyatu dalam satu cerita besar di media sosial Sulawesi Utara. Cerita tentang pemimpin yang nyanda cuma ba bicara, tapi ba kerja. Tentang pemimpin yang nyanda cuma ba perintah, tapi ba datang langsung. Tentang pemimpin yang nyanda tambah beban, tapi kase ringan hidup rakyat.

Bagi masyarakat, ini bukan sekadar rangkaian peristiwa. Ini soal rasa aman. Soal kepercayaan. Soal keyakinan bahwa di tengah badai alam dan beratnya hidup, masih ada pemimpin yang memilih hadir, meski harus menempuh perjalanan sulit, dan tetap berdiri bersama rakyatnya.

Dipublikasikan oleh Disdukcapilkb Sulawesi Utara

Terakhir diupdate: 11 Januari 2026, 01.46