Di Tengah Gempa, Gubernur Yulius Selvanus Tegaskan Arah: Sulut Bangkit, Bukan Gentar


MANADO — Di tengah situasi pascagempa bermagnitudo 7,6 yang masih menyisakan kecemasan dan ratusan gempa susulan, Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, tampil dengan satu sikap yang jelas: daerah ini tidak boleh dipimpin oleh rasa takut.
Momentum Paskah 2026 tidak dibiarkan berlalu sebagai seremoni keagamaan semata. Gubernur Yulius menggunakannya sebagai panggung kepemimpinan untuk menegaskan arah—bahwa kebangkitan harus hadir dalam tindakan nyata: ketangguhan, kesiapsiagaan, dan solidaritas sosial.
“Ini bukan sekadar peristiwa iman, tetapi momentum untuk memastikan kita bangkit sebagai masyarakat yang lebih kuat dan siap menghadapi setiap tantangan,” tegasnya.
Di saat sebagian daerah cenderung reaktif dalam menghadapi bencana, pendekatan yang ditunjukkan Gubernur Yulius justru terukur dan terkendali—menenangkan publik tanpa mengabaikan urgensi kesiapsiagaan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara secara konsisten mendorong penguatan mitigasi bencana berbasis komunitas. Edukasi publik, disiplin informasi, serta kesiapan dari tingkat keluarga hingga lingkungan menjadi fokus yang terus digerakkan.
Dalam situasi seperti ini, arah kepemimpinan menjadi faktor penentu. Dan Gubernur Yulius Selvanus memilih untuk berdiri di titik itu—mengendalikan keadaan, bukan dikendalikan oleh keadaan.
Ia juga kembali menegaskan bahwa kekuatan utama Sulawesi Utara bukan hanya pada infrastruktur, tetapi pada nilai sosial yang hidup di masyarakat: Torang Samua Basudara, Mapalus, dan Sitou Timou Tumou Tou.
Nilai-nilai tersebut menjadi energi kolektif yang menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan bencana.
Paskah, dalam konteks ini, dimaknai lebih luas—sebagai momentum konsolidasi daerah: memperkuat iman, merapatkan barisan sosial, dan memastikan arah pembangunan tetap berjalan.
Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi tegas: Sulawesi Utara tidak berhenti karena bencana. Di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus, daerah ini diarahkan untuk tetap bergerak, menjaga stabilitas, dan bangkit dengan kekuatan yang lebih besar. Di tengah ketidakpastian, pemerintah hadir. Di tengah kecemasan, arah tetap dijaga. Dan kepada masyarakat, satu pesan disampaikan dengan jelas: jangan takut—kita hadapi ini bersama.