Penduduk Sulawesi Utara 2025 Tercatat 2,66 Juta Jiwa, Tumbuh Tipis 0,75 Persen

Manado – Jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Utara tahun 2025 tercatat sebanyak 2.665.200 jiwa, meningkat tipis dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 2.645.291 jiwa. Kenaikan sekitar 19.909 jiwa atau 0,75 persen ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk di Sulawesi Utara cenderung melambat dan stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Data tersebut bersumber dari Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) hasil Konsolidasi Bersih II Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil Kemendagri RI) yang dikelola oleh perangkat daerah terkait kependudukan.
Dari total penduduk tersebut, komposisi laki-laki mencapai 1.361.188 jiwa (51,07 persen), sedangkan perempuan sebanyak 1.304.012 jiwa (48,93 persen). Struktur ini menghasilkan rasio jenis kelamin sekitar 104 laki-laki per 100 perempuan, yang menunjukkan kondisi demografis relatif seimbang.
Secara wilayah, Kota Manado masih menjadi daerah dengan jumlah penduduk terbesar, yakni 462.658 jiwa atau sekitar 17,36 persen dari total penduduk provinsi. Posisi ini menegaskan peran Manado sebagai pusat utama aktivitas pemerintahan, ekonomi, dan jasa di Sulawesi Utara.
Di bawahnya, Kabupaten Minahasa mencatat 333.316 jiwa, diikuti Kabupaten Bolaang Mongondow (259.960 jiwa), Kabupaten Minahasa Selatan (244.070 jiwa), dan Kabupaten Minahasa Utara (232.848 jiwa). Sementara itu, Kota Bitung (217.504 jiwa), Kota Kotamobagu (122.230 jiwa), dan Kota Tomohon (104.260 jiwa) menjadi pusat pertumbuhan sekunder di provinsi tersebut.
Di wilayah kepulauan, jumlah penduduk relatif lebih kecil, seperti Kabupaten Kepulauan Sangihe (136.393 jiwa), Kepulauan Talaud (101.020 jiwa), dan Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (69.965 jiwa), yang mencerminkan karakter geografis kepulauan dengan sebaran penduduk terbatas.
Secara umum, pola persebaran penduduk menunjukkan konsentrasi yang masih terpusat di wilayah perkotaan dan kawasan Minahasa Raya, sementara wilayah kepulauan dan sebagian Bolaang Mongondow Raya memiliki kepadatan yang lebih rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan kependudukan ke depan tidak hanya pada jumlah, tetapi juga pada pemerataan persebaran penduduk antarwilayah.