Potret Kepala Keluarga Sulut 2025: Ekonomi Rakyat Masih Menjadi Penopang Utama

Manado, — Struktur pekerjaan kepala keluarga di Sulawesi Utara tahun 2025 memperlihatkan bahwa ekonomi rakyat masih menjadi fondasi utama penghidupan masyarakat. Di tengah pertumbuhan sektor jasa dan pembangunan daerah yang terus bergerak, sebagian besar rumah tangga di Sulawesi Utara ternyata masih bertumpu pada usaha mandiri, pertanian, dan sektor ekonomi berbasis sumber daya alam.
Data hasil konsolidasi bersih Semester II Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang dikelola Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil dan Keluarga Berencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara mencatat jumlah kepala keluarga di Sulawesi Utara mencapai 947.831 KK.
Dari jumlah tersebut, kelompok wiraswasta menjadi yang terbesar dengan 343.120 kepala keluarga atau 36,20 persen. Sementara sektor pertanian dan peternakan berada di posisi kedua dengan 262.603 kepala keluarga atau 27,71 persen.
Jika digabungkan, lebih dari 63 persen kepala keluarga di Sulawesi Utara menggantungkan sumber penghidupan pada usaha mandiri dan sektor primer tradisional.
Data ini menunjukkan bahwa denyut ekonomi daerah masih bergerak kuat melalui aktivitas ekonomi rakyat. Mulai dari pedagang kecil, pemilik usaha rumahan, petani, pekebun, hingga pelaku UMKM menjadi penyangga utama ekonomi rumah tangga masyarakat.
Di satu sisi, kondisi tersebut menunjukkan tingginya daya tahan ekonomi masyarakat akar rumput. Sektor usaha mandiri mampu menyerap tenaga kerja secara luas dan tetap bergerak bahkan dalam situasi ekonomi yang tidak menentu.
Namun di sisi lain, dominasi sektor informal juga memperlihatkan tantangan besar. Banyak rumah tangga masih bekerja dengan tingkat pendapatan yang tidak stabil, perlindungan sosial yang terbatas, serta ketergantungan tinggi terhadap kondisi pasar dan harga komoditas.
Besarnya proporsi kepala keluarga pada sektor pertanian dan peternakan juga memperlihatkan bahwa struktur ekonomi Sulawesi Utara masih sangat dipengaruhi aktivitas agraris. Sebagian besar rumah tangga masih bergantung pada hasil kebun, pertanian rakyat, dan komoditas primer sebagai sumber utama penghasilan.
Karakter wilayah kepulauan dan maritim Sulawesi Utara turut tercermin dari jumlah kepala keluarga nelayan yang mencapai 44.920 atau 4,74 persen. Sektor kelautan dan perikanan masih menjadi sumber kehidupan penting bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau.
Sementara itu, kelompok aparatur negara dan pejabat pemerintahan tercatat sebanyak 51.877 kepala keluarga atau 5,47 persen. Meski jumlahnya tidak besar, sektor formal pemerintahan masih menjadi salah satu sumber stabilitas ekonomi rumah tangga karena memiliki pendapatan yang relatif tetap dan perlindungan sosial yang lebih baik.
Data juga menunjukkan bahwa profesi berbasis keahlian modern masih relatif kecil. Kepala keluarga yang bekerja sebagai tenaga pengajar tercatat 7.793 atau 0,82 persen, sedangkan tenaga kesehatan hanya 2.510 atau 0,26 persen.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan tenaga profesional masih membutuhkan penguatan, terutama melalui peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Dari sisi gender, kepala keluarga laki-laki masih mendominasi hampir seluruh sektor produktif utama, terutama pertanian, nelayan, wiraswasta, dan aparatur negara. Sebaliknya, kepala keluarga perempuan banyak terkonsentrasi pada kelompok pekerjaan “lainnya” yang mencapai 130.992 jiwa atau 13,82 persen.
Secara umum, struktur pekerjaan kepala keluarga di Sulawesi Utara menggambarkan ekonomi daerah yang masih bertumpu pada sektor rakyat dan usaha tradisional, namun memiliki peluang besar untuk berkembang menuju ekonomi yang lebih modern dan produktif.
Penguatan UMKM, pengembangan industri pengolahan berbasis komoditas lokal, modernisasi sektor pertanian dan perikanan, hingga peningkatan kualitas tenaga kerja dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga di Sulawesi Utara pada masa mendatang.